Jumat, 25 Maret 2011

Pertemuan Ke 2


KONSEP PENDIDIKAN UMUM
Pendidikan umum merupakan pendidikan yang komprehensif. Pendidikan kompherensif itu adalah pendidikan yang menyeluruh yang memiliki sikap emosi, intelektual dan spritual yang bagus. Atau mendidik kepala, hati dan tangan. Sasaran yang di sentuh adalah rasio, rasa dan tingkah laku.
Konsep dari pendidikan umum itu sendiri (General Education) yaitu, pendidikan yang berkenaan dengan pengembangan keseluruhan kepribadian seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat ddan lingkungan hidupnya. Konsep lain dari pendidikan umum yaitu program pendidikan yang membina dan mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa dan mahasiswa. Dari lahirnya pendidikan umum itu maka seharusnya mahasiswa menurut Philip H. Phenix (1964:6), ada enam pola esensial bagi segenap mahasiswa yaitu,
  • Makna Symbolycs, yaitu kemampuan berbahasa dan berhitung
  • Makna empirics, yaitu kemampuan untuk memaknai benda-benda melalui proses penjelajahan dan penyelidikan empiris.
  • Mkna esthetics, yaitu kemampuan memaknai keindahan seni dan fenomena alam
  • Makna ethics, yaitu kemampuan memaknai baik dan buruk
  • Makna synoetics, yakni kemampuan berfikir logis, rasional sehingga dapat memaknai benar dan salah
  • Makna synoptic, yaitu kemampuan untuk beragama atau berfilsafat


Materi 1
Ilmu Sosial Budaya Dasar

ISBD bukanlah suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, melainkan hanyalah suatu pengetahuan mengenai aspek-aspek yang paling dasar yang ada dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya, dan masalah-masalah yang terwujud daripadanya.
·        Fungsi ISBD
Memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala sosial kebudayaan agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosial budaya dapat ditingkatkan sehingga kepekaan mahasiswa pada lingkungannya menjadi lebih besar.
·        Visi ISBD
Berkembangnya mahasiswa sebagai manusia terpelajar yang kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman, kesetaraan, dan kemartabatan manusia yang dilandasi nilai-nilai estetika, etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
·        Misi ISBD
Memberikan landasan dan wawasan yang luas, serta menumbuhkan sikap kritis, peka, dan arif pada mahasiswa untuk memahami keragaman, kesetaraan, dan kemartabatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat selaku individu dan makhluk social yang beradab serta bertanggungjawab terhadap sumber daya dan lingkungannya.
·        Tujuan ISBD
Mengembangkan kesadaran mahasiswa menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman, kesetaraan, dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk social dalam kehidupan bermasyarakat.
Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman, kesederajatan, dan kemartabatan manusia dengan landasan nilai estetika, etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal bagi hidup bermasyarakat, selaku individu dan mahkluk social yang beradabdalam mempraktikkan pengetahuan akademik dan keahliannya dan mampu memecahkan masalah social budaya secara arif.

Materi 2
Manusia Sebagai Mahluk Individu dan Sosial
(Juga Sebagai Mahluk polekbudpsikol)

  1. Manusia Sebagai Mahluk Individu
Individu berasal dari kata in devided. In  berarti tidak, dan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Manusia lahir sebagai makhluk individual yang bermakna tidak terbagi atau tidak terpisahkan antara jiwa dan raga. Secara biologis manusia lahir dengan kelengkapan fisik tidak berbeda dengan makhluk hewani. namun secara rohani ia sangat berbeda dengan makhluk apapun. Dalam perkembangannya, manusia sebagai makhluk individu tidak hanya bermakna kesatuan jiwa dan raga, tetapi akan menjadi pribadi yang khas dengan corak kepribadiannya termasuk kemampuan kecakapannya. Setiap manusia memiliki perbedaan, hal itu dikarenakan manusia memiliki karakteristik sendiri. Ia memiliki sifat, watak. keinginan dan cita-cita yang berbeda satu sama lainnya.
Unsur-unsur Personality
  • Pengetahuan
Meliputi: Persepsi, Apresiasi, Pengamatan, Konsepsi, Fantasi.
  • Perasaan
  • Drive (Dorongan)
Meliputi: Dorongan untuk mempertahankan hidup, Sex, Mencari Makan, Berinteraksi, Meniru, Berbakti dan Keindahan.


  1. Manusia Sebagai Mahluk Sosial
    Manusia sebagai makhluk sosial adalah bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lainnya. Manuisa dikatakan makhluk sosial karena beberapa alasan, yakni manusia tunduk pada aturan atau norma sosial, perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain, manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia, perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian.

    Norma-norma sosial  yang menjadi patokan hidup manusia: norma agama (norma yang bersumber dari Allah), norma kesusilaan atau moral (norma yang bersumber dari hati nurani manusia), norma kesopanan atau adat (norma yang bersumber dari lingkungan masyarakat), norma hukum (norma yang dibuat oleh masyarakat secara resmi/oleh negara.Implikasi-implikasi manusia sebagai makhluk sosial:
  • Kesadaran akan ketidakberdayaan manusia bila seorang diri.
  • Kesadaran untuk senantiasa dan harus berinteraksi dengan orang lain.
  • Penghargaan akan hak-hak orang lain.
  • Ketaatan terhadap norma-norma yang berlaku.
    Keberadaannya sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia melakukan peran-peran sebagai berikut:
  • Melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok.
  • Membentuk kelompok-kelompok sosial.
  • Menciptakan norma-norma sosial sebagai pengaturan tertib kehidupan kelompok.

Jumat, 04 Maret 2011

Kondisi Mayarakat dan Pendidikan indonesia kini

MATERI PERTEMUAN 1

Masyarakat adalah suatu kumpulan manusia yang memiliki suatu tujuan dan cita-cita yang sama dan mendiami suatu tempat.
Kondisi masyarakat di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
1)      Modernisasi
Adalah Proses perubahan sosial dari sistem yang bersifat tradisional menjadi lebih maju yang ditandai dengan perubahan di segala bidang seperti penggantian tenaga manusia ke tenaga mesin
2)      Globalisasi
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
3)      Sekularisasi
Sekularisasi adalah perubahan masyarakat dari identifikasi dekat dengan nilai-nilai dan institusi agama menjadi nilai-nilai dan institusi non-agama dan sekuler. Tesis sekularisasi mengarah pada keyakinan bahwa ketika masyarakat "berkembang", terutama melalui modernisasi dan rasionalisasi, agama kehilangan kekuasaannya di semua aspek kehidupan sosial dan pemeirntahan.Sebutan sekularisasi juga digunakan dalam konteks mengangkat batasan keagamaan dari seorang rohaniwan.
Sekularisasi memiliki banyak tingkatan arti, yaitu sebagai teori atau proses sejarah. Teoris sosial seperti Karl Marx, Sigmund Freud, Max Weber, dan Émile Durkheim, menyatakan bahwa modernisasi masyarakat akan mendorong penurunan tingkat religiusitas. Penelitian dalam proses ini bertujuan untuk menentukan kelakuan yang menyebabkan kepercayaan, praktik dan institusi keagamaan kehilangan pengaruh publik. Sejumlah teoris memabntah bahwa sekularisasi peradaban modern disebabkan oleh ketidakmampuan manusia untuk mengadopsi kebutuhan etis dan spiritual manusia agar sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin cepat.
Ketiga factor diatas mempengaruhi sikap masyarakat, sehingga masyarakat memiliki sikap, diantaranya: egois, individualis, matrealistis, secular, hedonis, krisis ahlak, dan menjadikan agama sebagai symbol.
Hal ini diperparah dengan kondisi pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan, diantaranya : arah pendidikan yang kurang jelas, pendidikan adalah barang mahal, pendidikan yang tidak merata, penyelewengan dana pendidikan cukup tinggi, kurangnya penghargaan terhadap guru/ dosen, kualitas/ kuantitas guru/ dosen, pendidikan kepribadian kurang mendapat perhatian serius (meliputi pendidikan agama, dan kewarganegaraan), mencetak tukang.
Lalu apakah penyelesaiaan yang paling baik? Tentunya kembali lagi kepada tugas dan fungsi pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia agar manusia Indonesia sesuai dengan visinya
di tahun 2020 yaitu :
  1. Religius
  2. Demokrasi
  3. Kepastian Hukum
  4. Egalitarian
  5. Penghargaan terhadap “Human dignity”
  6. Kemajuan budaya dan bangsa dalam satu kesatuan
Manusia adalah mahkluk yang Homo Humanus, manusiawi, berbudaya dan halus. Manusiawi dalam pengertian sikap yang menghargai manusia sebagai mahkluk yang memiliki martabat tinggi dengan segala hak-haknya (harus diperlakukan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan/ sesuai dengan firtahnya mahkluk Tuhan). Berbudaya, maksudnya perilakunya dituntun oleh akal budi sehingga mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya dan lingkungannya serta tidak bertentangan dengan kehendak ALLAH SWT. Halus, yaitu kehalusan bertingkah laku perbuatan lemah-lembut, sopan-santun, budi bahasa dan beradab (berakhlak).